Iklan

BabeCirebon
Selasa, 24 Februari 2026, 19.35 WIB
Last Updated 2026-02-28T20:41:30Z
bbwsbencanaberitaciayumajakuninginfrastrukturkota cirebonwalikota cirebon

BBWS Cimancis Segera Perbaiki Jembatan Lebakngok

Advertisement
Kota Cirebon - Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, bersama jajaran Forkopimda dan pihak BBWS Cimanuk-Cisanggarung (Cimancis) serta perangkat daerah terkait, meninjau lokasi terjadinya tanah longsor pada Jembatan Lebakngok, Bendakerep, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Selasa (24/2/2026).

Peninjauan ini dilakukan untuk memetakan skala kerusakan sekaligus mencari solusi jangka pendek agar mobilitas warga tidak terputus.

Walikota Virebon, tinjsu jembatan
Walikota Cirebon, Effendi Edo meninjau kondisi jembatan Lebakngok, Argasunya,

Menurut Wali Kota, sinergi lintas instansi menjadi kunci percepatan perbaikan, mengingat Jembatan Lebakngok merupakan akses vital bagi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat sekitar.

“Insya Allah hari Jumat mulai dikerjakan. Target kami dalam beberapa minggu ke depan akses ini sudah kembali normal,” ujar Effendi Edo di sela peninjauan.

Mengingat kondisi tanah dan struktur jalan belum stabil, untuk sementara kendaraan roda empat belum diperkenankan melintas.

Jembatan ini merupakan akses utama yang menghubungkan dua akses yang padat penduduk. Yakni, RW 11 Bendakerep dengan RW 08 Kopiluhur.

Untuk itu, sebagai langkah awal, pemerintah akan melakukan penguatan struktur serta membangun pemecah arus sekitar 50 meter dari jembatan guna mengurangi tekanan air ke dinding jalan.

“Kami mohon masyarakat bersabar. Setelah penguatan selesai, kendaraan roda empat termasuk truk pengangkut kebutuhan warga bisa kembali melintas,” tambahnya.

Di sisi teknis, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro, menjelaskan bahwa tahap awal penanganan difokuskan pada normalisasi alur sungai.

Selain normalisasi sungai, pihaknya juga akan memperkuat kaki jembatan menggunakan metode riprap atau susunan batu alam guna melindungi struktur pilar.

"Untuk tahap awal akan dilakukan normalisasi alur sungai untuk menstabilkan arus dan mengurangi tekanan air pada struktur jembatan," jelas Dwi.

Apabila nanti terjadi banjir lagi, air sudah terarah sehingga tidak menghantam tebing sungai di sisi tanah yang rawan, lanjutnya.

Menurutnya, secara geologi kawasan tersebut didominasi batu lempung yang mudah tererosi, sehingga beberapa jembatan di wilayah tersebut memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi.

Kondisi tebing sungai yang minim vegetasi juga mempercepat pengikisan, sehingga perlindungan alami seperti tanaman penahan tanah perlu dipertahankan.

"Pilarnya masih cukup kuat, jadi kita fokus melindungi kakinya dulu dengan batu yang ada di sekitar lokasi agar lebih efisien,” katanya.

Ia menyebut, pengerjaan dimulai pada pekan ini, dengan dukungan alat berat yang masuk melalui jalur hilir sungai karena akses darat cukup sulit dilalui.

Normalisasi ditargetkan rampung dalam beberapa pekan ke depan, sambil melihat perkembangan kondisi lapangan dan debit air sungai.