Iklan

BabeCirebon
Senin, 16 Februari 2026, 18.48 WIB
Last Updated 2026-02-22T08:56:04Z
bencanaberitaBPBDBupati MajalengkaciayumajakuningdinsosMajalengkapolri

Pergerakan Tanah Dari Puncak Perbukitan Membuat Ratusan Jiwa Di Majalengka Berada Dalam Ancaman

Advertisement
Majalengka - Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Majalengka pada Rabu (11/2/2026), memicu rentetan bencana alam di 14 titik berbeda dalam waktu hanya satu malam.

Intensitas hujan tinggi selama 5 jam, mengakibatkan banjir, tanah longsor, hingga pergerakan tanah.

Di Blok Godabaya, Desa Sukadana, Kecamatan Malausma, terjadi Pergerakan tanah sejak Jum'at (13/2/2026) dinihari dan hingga Senin (16/2/206) ini masih terus terjadi susulan.

Bupati Majalengka tinjau lokasi warga terdampak bencana tanah bergerak
Bupati Majalengka, Eman Suherman meninjau warga terdampak bencana tanah bergerak di lokasi Desa Sukadana, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka

Bupati Majalengka, Eman Suherman, meninjau langsung lokasi bencana tanah bergerak, di Desa Sukadana, Kecamatan Malausma pada, Minggu (15/2/2026).

Eman menyampaikan keprihatinannya dan belasungkawa yang sebesar besarnya atas kondisi warga yang terdampak dan meminta dinas terkait segera mengambil langkah konkret.

Bupati yang didampingi Kapolsek Malausma, tampak berkoordinasi langsung dengan Kepala BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, berikut Forkopimcam Malausma, Kepala Desa Sukadana dan warga masyarakat Blok Godabaya Desa Sukadana Kecamatan Malausma Kabupaten Majalengka.

"Dengan adanya koordinasi antara pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta masyarakat, diharapkan bencana serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang dan di aktifkan ronda untuk antisipasi pergerakan tanah lanjutan kepada warga guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif," ucap Bupati Eman.

Menurutnya, Pemkab Majalengka akan berdiskusi dengan dinas terkait bencana dan kepala Desa Sukadana untuk menyediakan tempat relokasi bagi warga yang rumahnya terdampak bencana.

Bupati juga menyatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait kemungkinan relokasi permanen bagi warga terdampak, apabila masyarakat menyatakan kesediaannya.

"Namun di sisi lain, Pemkab juga menyiapkan lahan relokasi di daerah yang lebih aman dan tidak jauh dari lokasi saat ini agar warga tetap bisa beraktivitas,” ujar Eman.

Menurutnya, opsi relokasi menjadi pertimbangan penting mengingat kondisi tanah masih labil dan berpotensi mengalami pergerakan susulan, terutama jika intensitas hujan kembali meningkat.

"Apabila BMKG menyatakan 1 sampai 2 Minggu kedepan turun hujan secara terus menerus Pemerintah akan mengambil langkah Tanggap Darurat untuk Relokasi sesuai Rekomendasi dari BPBD," terangnya.

Selain mendirikan tenda pengungsian sementara, Dinas Sosial juga membuka dapur umum untuk menjamin kebutuhan logistik warga terdampak selama masa darurat," sambungnya.

Berdasarkan laporan di lapangan, peristiwa yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026 itu dipicu curah hujan tinggi yang meningkatkan kadar air dalam tanah secara drastis.

Lokasi kejadian diketahui berada di zona merah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sangat tinggi, sehingga kondisi lereng menjadi labil. Pergerakan tanah sepanjang kurang lebih 339 meter dari puncak perbukitan menyebabkan 25 rumah terdampak, 35 kepala keluarga mengungsi, dan 128 jiwa lainnya berada dalam ancaman.

Pemerintah Kabupaten Majalengka memastikan langkah tanggap darurat langsung dilakukan.

Hingga Minggu sore, tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Pemerintah daerah memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi sambil menunggu hasil kajian teknis lanjutan terkait stabilitas lahan dan kemungkinan relokasi permanen.